Oleh : Rias
Kunci keberhasilan berbisnis/wirausaha adalah sumber modal jangan sepenuhnya dari uang pribadi, tetapi sepenuhnya atau sebagian besar modalnya meminjam/berhutang dari bank. Berhutanglah yang besar ke bank agar bisnisnya besar pula. Karena modalnya dari hutang, maka dengan sendirinya usaha jadi lebih maju, pesanan semakin banyak, lalu dengan sendirinya juga manajemen, dan lain-lainya jadi rapih pula. Semakin sibuk bukan pemilik yang bekerja sepenuhnya, tetapi banyak karyawan yang bekerja. Karena hutang untuk usaha adalah salah satu bentuk amal mulia. Kemudian diimbangi dengan amal sedekah.
Dilihat dari sudut pandang dan cara yang berbeda, bentuk tindakan seseorang dapat dianggap baik atau tidak baik, tergantung kita yang menyikapinya. Beribadah kalau niatnya hanya karena Allah semata, maka ibadahnya menjadi baik. Sebaliknya, kalau niatnya ingin dipuji orang maka ibadahnya menjadi tidak baik. Begitupun dengan perihal hutang.
Hutang ada 2 (dua) macam yaitu hutang baik dan hutang tidak baik. Hutang untuk bisnis/usaha adalah hutang yang baik. Sebaliknya hutang yang dipakai untuk kebutuhan konsumtif atau foya-foya adalah hutang tidak baik.
Hutang yang disarankan di sini adalah hutang baik. Hutang itu mulia. Saya sangat setuju. Hutang berarti beramal sama halnya dengan sedekah. Belajar berhutang untuk usaha dari mulai 5 juta sampai 5 milyar/milyaran. Belajar bersedekah dari yang kecil hingga yang besar. Keduanya harus kita praktekkan.
Memang hutang adalah liabilitas, tetapi sekali lagi ini hutang baik. Dalam hidup selalu berpasang-pasangan. Aset pasangannya liabilitas. Arti singkatnya, aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke kantong kita. Hutang/liabilitas adalah sesuatu yang keluarkan uang dari kantong kita. Sebelum memiliki aset, miliki lebih dulu hutang. Dalam target waktu tertentu semua hutang kita lunasi, sementara aset besar tetap masih kita miliki.
Memang hutang adalah liabilitas, tetapi sekali lagi ini hutang baik. Dalam hidup selalu berpasang-pasangan. Aset pasangannya liabilitas. Arti singkatnya, aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke kantong kita. Hutang/liabilitas adalah sesuatu yang keluarkan uang dari kantong kita. Sebelum memiliki aset, miliki lebih dulu hutang. Dalam target waktu tertentu semua hutang kita lunasi, sementara aset besar tetap masih kita miliki.
Semakin besar hutang, semakin besar aset, semakin besar bisnis, dan semakin besar pula sedekahnya. Itu semua berarti kita berusaha menambah amal kita. Apabila kita sudah mengambil hutang, besar kewajiban kita untuk membayar cicilan tidak seberapa nilainya dibanding dengan nilai keuntungan/omset yang kita dapatkan setiap bulan dari bisnis. Sehingga hutang, aset, dan bisnis semakin membesar. Namun hutang besar tadi tidak seberapa nilainya dibanding dengan aset yang kita miliki, apalagi didukung dengan bisnisnya. Semua tadi saling berkaitan.
Kurangi keinginan yang terlalu banyak, hidup jangan terlalu banyak kebutuhan atau berlebihan. Kita bukan berarti malas. Kita tetap berusaha untuk lebih baik. Kalau nanti kebutuhannya tercapai sesuai kemampuan kita, maka ambillah dan bersyukurlah.
Hutang usaha dan sedekah adalah beban/resiko yang mulia, sehingga lakukanlah di atas kemampuan kita. Tetapi kalau untuk kebutuhan konsumtif, lakukan di bawah kemampuan kita.
Karena dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah tidak akan membebani manusia di atas kemampuannya. Maka, semakin besar hutang usaha dan sedekah, dengan sendirinya kemampuan kita berada di atas atau minimalnya setara sesuai beban hutang dan sedekah yang kita lakukan. Ayat ini berlaku untuk semua manusia penganut agama apapun.
Misalnya ada dua orang bersaudara atau dua orang bersahabat Si A dan Si B yang sama-sama menjalani bidang usaha yang sama dengan masing-masing berbeda sumber modalnya. Sebagian besar atau bahkan seluruh modal Si A bersumber dari pinjaman. Sedangkan modal Si B tanpa pinjaman, modalnya sebagian besar atau sepenuhnya bersumber dari orangtuanya atau uang pribadinya. Maka Si A akan lebih maju pesat usahanya dibandingkian dengan Si B yang lambat perkembangan usahanya. Mengapa demikian? Karena Si A akan diberi karunia/kemampuan lebih dalam menjalankan usahanya. Si A akan termotivasi dan merasa bertanggungjawab. Sedangkan Si B tidak termotivasi, bahkan akan bersikap malas-malasan karena Si B diberi kemampuan tidak lebih dari kemampuan Si A.
Ada asumsi lagi misalnya seseorang yang masih bunjangan yang bebannya sedikit, maka rezekinya sedikit pula. Rezekinya akan bertambah, jika orang itu menikah karena mempunyai beban istri. Semakin bertambah rezekinya, jika memiliki anak, dan seterusnya. Islam menganjurkan kita agar menikah/menikahkan bagi orang-orang yang sendirian dan orang-orang yang layak menikah (QS. An Nuur : 32). Kita dapat mengambil penafsiran dari ayat tersebut perihal berhutang untuk usaha/bisnis. Seperti halnya menikah, hutang usaha juga merupakan risiko/beban yang mulia. Maka semakin besar risiko semakin besar pula rezekinya.
Jadi, menikahlah bagi yang sendirian dan layak menikah, selanjutnya milikilah keturunanya hingga menjadi keluarga besar dan merasa sempurna. Berhutanglah untuk modal usaha/bisnis bagi yang masih menganggur dan layak bekerja, serta bagi yang sudah memiliki bisnis agar bisnisnya semakin besar dan merasa sempurna. Allah SWT akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.
Bagi kita yang sudah layak berbisnis dan tidak memiliki sumber modal pribadi atau orangtua, berhutanglah sepenuhnya dari bank. Kalaupun kita memiliki uang tunai yang banyak atau sedikit, sebaiknya tetap mengambil pinjaman yang lebih banyak dari uang tunai yang kita miliki. Anggaplah uang tunai tadi sebagai modal tambahan, sedangkan uang pinjaman sebagai modal utamanya.
Mulailah sekarang kita gunakan otak kanan dulu, kemudian gunakan otak kiri kita. Datanglah kita ke semua bank yang terdekat. Anggap saja semua bank yang ada itu sumber modal kita. Setiap bank berbeda-beda kebijakannya. Sehingga nanti kita mengetahui proses pengajuan pinjaman ke masing-masing bank. Bertindaklah berani dan nekad mengambil hutang, karena hutang untuk usaha adalah risiko yang baik. Jadi berani dan nekad di sini adalah baik.
Sekarang banyak bank yang memberi pinjaman tanpa jaminan atau dengan jaminan. Segera dapatkan pinjaman dari bank sesuai yang kita peroleh, kemudian teruslah semakin menambah hutang kita untuk menambah bisnis/usaha kita pula. Sedangkan usaha sudah berjalan dari modal hutang tadi dan bisa buat mencicil hutang yang tidak seberapa dibandingkan keuntungan bisnis tiap bulannya. Lalu kalau kita memperoleh pinjaman yang lebih besar dari bank, sebagian kita peruntukkan modal usaha dan sebagian lagi untuk beli tanah/properti. Properti yang kita beli tadi dapat kita manfaatkan untuk tempat bisnis, misalnya untuk membuka toko atau lainnya dan nilai properti juga semakin bertambah, jadi hutang akan menjadi lebih aman. Kemudian tanah/properti tersebut kita agunkan buat mengajukan pinjaman lagi untuk bisnis baru dan beli properti lagi, dan seterusnya dan seterusnya.
Kita berniat baik untuk berhutang usaha dan tepat waktu dalam mencicil hutang setiap bulannya. Semakin baik kita di mata bank, maka bank akan semakin mempercayai kita. Jadi kita saling membutuhkan, bank membutuhkan kita, begitupun sebaliknya.
Apakah kita masih ragu dengan bunga bank, bukannya riba? Tentang bunga bank kita kembalikan menurut pendapat dan keyakinan masing-masing termasuk kategori riba atau bukan.
Kita dibolehkan (dihalalkan) mengambil barang yang tidak halal kalau kondisinya terpaksa. Misalnya, kita berada di tengah-tengah laut atau hutan kemudian tidak ada makanan halal yang dapat kita makan. Dalam kondisi jiwa kita terancam, maka kita boleh memakan makanan yang tidak halal.
Kita bisa mencari bank syariah, kalau ternyata ke bank syariah belum bisa kita dapatkan pinjaman atau kita rasa belum berhasil, maka kita bisa berusaha ke bank konvensional. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang halal atau tidaknya bunga bank, maka perlu ditegaskan lagi hal ini menurut keyakinan kita masing-masing.
Kita bisa mencari bank syariah, kalau ternyata ke bank syariah belum bisa kita dapatkan pinjaman atau kita rasa belum berhasil, maka kita bisa berusaha ke bank konvensional. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang halal atau tidaknya bunga bank, maka perlu ditegaskan lagi hal ini menurut keyakinan kita masing-masing.
Tetapkan target sampai usia berapa kita akan mengambil masa pensiun yaitu masa di saat semua hutang lunas, namun bisnis tetap jalan. Apabila dirasa usia kita telah menginjak masa tua (kurang produktif) dan ingin memutuskan pensiun/berhenti dalam hal berhutang untuk berbisnis, maka sebagian aset yang kita miliki dapat kita uangkan (dijual) untuk melunasi semua hutang kita. Sehingga pada waktunya nanti semua bisnis kita dapat diwariskan. Jadi kita mewariskan bisnis, bukan mewariskan hutang. Kemudian sang pewaris dapat menjalankan bisnis warisannya disertai dengan hutang pula atas nama pribadi sang pewaris, begitu seterusnya.
Bagaimana kalau seandainya dalam perjalanan hutang, ternyata kita meninggal dunia? Jangan khawatir, semua hutang kita di bank akan lunas. Pihak asuransi yang akan melunasinya. Jadi kita tidak akan mewariskan hutang kepada siapapun termasuk ahli waris. Setiap mengambil akad persetujuan pinjaman di bank, maka sekaligus ada asuransinya. Sehingga dalam hal ini sama juga bahwa bisnis kita dapat diwariskann, bahkan sang pewaris akan menikmati harta dari hutang peninggalana kita Sekali lagi kita mewariskan bisnis, bukan mewariskan hutang. Kemudian sang pewaris dapat menjalankan bisnis warisannya disertai dengan hutang pula atas nama pribadi sang pewaris, begitu seterusnya.
Bagaimana kalau seandainya dalam perjalanan hutang, ternyata kita meninggal dunia? Jangan khawatir, semua hutang kita di bank akan lunas. Pihak asuransi yang akan melunasinya. Jadi kita tidak akan mewariskan hutang kepada siapapun termasuk ahli waris. Setiap mengambil akad persetujuan pinjaman di bank, maka sekaligus ada asuransinya. Sehingga dalam hal ini sama juga bahwa bisnis kita dapat diwariskann, bahkan sang pewaris akan menikmati harta dari hutang peninggalana kita Sekali lagi kita mewariskan bisnis, bukan mewariskan hutang. Kemudian sang pewaris dapat menjalankan bisnis warisannya disertai dengan hutang pula atas nama pribadi sang pewaris, begitu seterusnya.
Kita jangan terlalu banyak berfikir, yang penting mulailah kita action ke beberapa bank terdekat. Kemudian kita akan tahu sendiri persyaratannya. Memang orang yang baru pertama kali berhutang untuk usaha akan merasa sedikit ketakutan dan selalu memikirkan hutang tersebut. Maka dari itu fokus ke bisnisnya, bukan pada hutangnya.
Setiap orang memiliki potensi. Kalau kita action mulai terjun ke bisnis dengan berhutang, kita akan semakin cepat maju. Jenis usaha itu ribuan, banyak sekali, tinggal kita pilih saja. dari mulai warungan sampai toko grosir. Jangan takut gagal. Gagal adalah proses pembelajaran dan sebagai pengalaman yang berharga untuk melangkah maju.
Jangan takut dengan gosip bahwa dengan berhutang untuk usaha, kita akan masuk penjara karena tidak mampu bayar. Kalau kita ada kendala dalam membayar, paling juga aset kita diambil. Jika uang pinjaman itu benar-benar digunakan untuk berbisnis, yakinlah pasti berhasil dan mampu bayar dan jarang atau bahkan mungkin tidak ada yang gagal. Karena niat baik untuk membayar tepat waktu setiap bulan dan pasti mampu membayarnya. Dengan demikian kita akan semakin dipercaya oleh bank dan semakin besar pinjaman yang akan ditawarkan oleh bank.
Jika kita belum memiliki rencana, lakukan TARGET dulu, baru RENCANA. Jadi berhutang dulu, kemudian tiba-tiba kita akan mendapatkan petunjuk jalan usahanya. Kurang tepat kalau RENCANA dulu, baru kemudian ber-HUTANG. Yang tepat adalah ber-HUTANG dulu, baru kemudian BERENCANA atau BERFIKIR. Apalagi jika kita sudah memiliki satu/beberapa/banyak rencana, maka kita akan mendapatkan satu/beberapa/banyak rencana yang lebih baik dari rencana sebelumnya setelah kita mengambil hutang usaha.
Jika kita ingin merubah pola pikir (mindset) hidup yang lebih maju dan baik, lakukan sendiri dengan penuh tanggung jawab. Allah tidak akan merubah suatu kaum/manusia, kalau kaum/manusia itu tidak mau merubahnya sendiri. Oleh karena itu berhutanglah untuk bisnis dan bersedekahlah, kemudian kurangi kebutuhan yang berlebih, lalu berserahdirilah kepada Allah SWT.
Jadi kiranya, RUMUS KAYA =
[(Saya + Hutang Usaha + Sedekah) – Kebutuhan Konsumtif ] + Allah SWT.
Beberapa Alasan Berhutang Untuk Usaha Adalah Mulia
Banyak keuntungan yang diperoleh dengan berhutang untuk usaha/bisnis/bekerja, di antaranya :
- Bernilai tambah dalam beribadah. Bekerja adalah ibadah. Bisnis yang maju berakibat hidup kita semakin sejahtera. Sehingga dapat pula mensejahterakan anak istri dan keluarga kita dan orang lain yang berada di sekeliling kita. Dengan demikian hidup kita lebih mandiri dan tidak banyak bergantung kepada orang lain. Bukan berarti kita hidup tidak butuh orang lain. Kita hidup bersama-sama dan berinteraksi dengan orang lain.
- Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Kita bisa beramal untuk diri sendiri dan keluarga. Kita bisa membuka kesempatan kerja bagi yang membutuhkan, sehingga bisa memberikan pekerjaan kepada karyawan. Kita bisa memberikan layanan kemudahan bagi masyarakat sekitar. Kita telah membantu bank, begitupun sebaliknya. Kita bisa semakin banyak beramal sedekah/zakat kepada yang membutuhkannya.
- Saling tolong menolong dalam kebaikan. Kita bekerjasama baik dengan bank dan orang-orang yang berhubungan dengan kita.
- Semakin besar beban/resiko hutang yang kita ambil, semakin besar pula rezekinya.
- Semakin kita bersyukur, semakin bertambah pula rezekinya.
Wallahu a'lam bishowaab
Landasan Al-Qur’an dan Sunnah
“Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah Memberikan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah : 24)
“Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah Memberikan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah : 24)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 261)
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. An-Nuur : 32)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd : 11)
"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra' : 29).
"Sesungguhnya orang-orang yang hidup berlebihan (pemboros) adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-nya." (QS. Al-Isra' : 27).
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)
"Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina' ". (QS. Al-Mu'min : 60)
"Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat". (QS. Al-Baqarah : 153)
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". (QS. Al-Insyirah : 5 - 6)
"Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". (QS. Muhammad : 7)
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa". (QS. Al-Hajj : 40)
"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (QS. Al-Baqarah : 214)
"Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Maka Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya" (QS. Al-Isra' : 84).
QS. Al-Baqarah : 275-283
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)
QS. Al-Baqarah : 275-283
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)
"Maha Suci (Allah) yang telah Menciptakan semuanya berpasangan-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS Yaasiin : 36)
“Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (H.R. Ahmad)
"Bila suatu pekerjaan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (H.R. Bukhari)
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan yang di atas ialah yang memberikan, dan tangan yang di bawah ialah yang minta (menerima)." (H.R. Bukhori dan Muslim)
Dari Anas bin Malik radhiallâhu 'anhu dari Nabi Shallallohu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidaklah (sempurna) iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri". (H.R. Bukhari dan Muslim)
Mari kita terus menggali sumber ilmu dari Al-Qur'an dan Sunnah yang belum kita ketahui untuk kita amalkan dalam kehidupan dunia menuju akhirat yang lebih baik.